SHTERATE.ORG – Kangmas Wahyu Subakdiono, S.Sos., dikenal dalam perjalanan perkembangan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Bojonegoro. Ia merupakan Ketua Cabang PSHT Bojonegoro Pusat Madiun yang kembali dipercaya memimpin organisasi tersebut untuk periode 2024–2029. Perjalanan Wahyu dalam dunia pencak silat bukanlah hal baru. Ia telah terlibat dalam pengembangan PSHT di Kabupaten Bojonegoro sejak awal 1980-an. Pengabdiannya selama puluhan tahun menjadikannya salah satu tokoh yang memiliki pengalaman panjang dalam perjalanan organisasi pencak silat tersebut. Memulai Pengabdian Sejak 1981 Dalam wawancara yang dipublikasikan media resmi PSHT, Wahyu menceritakan bahwa dirinya datang ke Kabupaten Bojonegoro pada 1981. Saat itu, ia ikut melatih dan dipercaya mengemban tugas sebagai seksi teknik. Menurut penuturannya, perkembangan awal PSHT di Bojonegoro tidak berlangsung tanpa tantangan. Pada masa perintisan, organisasi tersebut masih menghadapi kecurigaan sebagian masyarakat karena anggotanya mengenakan pakaian hitam dan sering berlatih pada malam hari. Seiring waktu, pendekatan yang santun kepada masyarakat serta aktivitas organisasi yang positif membantu PSHT semakin dikenal dan diterima di berbagai wilayah Bojonegoro. Dalam catatan sejarah yang disampaikan Wahyu kepada media resmi PSHT, cabang Bojonegoro memperoleh surat keputusan dari pusat pada 1982 dengan kepemimpinan awal Kangmas Suryono. Kisah tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan organisasi tidak hanya bertumpu pada latihan pencak silat, tetapi juga membutuhkan komunikasi, ketekunan, dan hubungan yang baik dengan masyarakat. Kembali Memimpin PSHT Bojonegoro Periode 2024–2029 Pada 30 Oktober 2024, Wahyu kembali dipercaya memimpin PSHT Cabang Bojonegoro Pusat Madiun untuk periode 2024–2029. Pelantikan pengurus dilaksanakan di pusat latihan Gantari Kirana, Desa Plesungan, Kecamatan Kapas, dan dipimpin Ketua Umum PSHT Pusat Madiun, R. Moerjoko Hadi Wiyono. Media Malawapati melaporkan bahwa periode tersebut merupakan kali kelima Wahyu menjabat sebagai ketua cabang sejak 2004. Pengalaman panjang itu menjadi bagian penting dalam perjalanan kepemimpinannya di organisasi pencak silat yang memiliki jaringan anggota hingga tingkat ranting dan rayon. Dalam pemberitaan sebelumnya, media resmi PSHT juga menyoroti pandangan Wahyu mengenai pentingnya meningkatkan kualitas anggota seiring dengan perkembangan organisasi. Baginya, pertumbuhan jumlah anggota perlu diimbangi dengan pembinaan yang baik, penguatan ajaran organisasi, dan pemahaman terhadap nilai persaudaraan. Kiprah dalam Pelestarian Pencak Silat dan Kerukunan Selain memimpin PSHT Cabang Bojonegoro, Wahyu juga diberitakan dipercaya menjadi Ketua Bojonegoro Kampung Pesilat (BKP). Forum ini mewadahi perguruan pencak silat di Kabupaten Bojonegoro untuk membangun sinergi, memperkuat kerukunan, serta mendukung terciptanya keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurut media pemberitaan SuaraBojonegoro.com, Jumat (27/3) Wahyu menerima penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bojonegoro atas kiprahnya dalam mengembangkan organisasi pencak silat. Pemberitaan tersebut juga mengaitkan penghargaan itu dengan upaya pelestarian budaya dan kesenian di daerah. Penghargaan tersebut menjadi salah satu catatan publik mengenai kiprah Wahyu dalam dunia pencak silat dan kebudayaan lokal. Namun, kontribusi seorang pemimpin organisasi juga dapat dilihat melalui pembinaan anggota, kegiatan sosial, dan kemampuannya membangun komunikasi dengan berbagai pihak. Mengedepankan Ketertiban dan Tanggung Jawab Organisasi Kiprah Wahyu juga terlihat dalam koordinasi dengan aparat keamanan. Keterlibatannya dalam rapat koordinasi pengamanan menjelang pengesahan warga baru PSHT. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan imbauan agar anggota menjaga ketertiban, tidak melakukan konvoi, dan mematuhi ketentuan pelaksanaan kegiatan. Langkah koordinasi seperti ini menunjukkan pentingnya kerja sama antara organisasi pencak silat, aparat keamanan, dan masyarakat dalam mencegah gangguan ketertiban. Konsistensi Menjadi Bagian dari Perjalanan Perjalanan Kangmas Wahyu Subakdiono di PSHT Bojonegoro menggambarkan proses pengabdian yang berlangsung selama puluhan tahun, mulai dari membantu latihan hingga memimpin organisasi di tingkat cabang. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari sejarah perkembangan pencak silat di Bojonegoro. Di tengah perkembangan organisasi dan beragam tantangan sosial, kepemimpinan perguruan silat tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bela diri, tetapi juga pembinaan karakter, kedisiplinan, pelestarian budaya, dan tanggung jawab sosial. Bagi PSHT Bojonegoro, keberlanjutan pengembangan organisasi membutuhkan keterlibatan pengurus dan anggota dalam menjaga nilai persaudaraan serta membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat. Dengan pengalaman panjangnya, Wahyu menjadi salah satu figur yang perjalanan pengabdiannya layak dicatat dalam perkembangan PSHT di Kabupaten Bojonegoro. Post Views: 36 Navigasi pos Dua Sesepuh SH Terate Bojonegoro Berpulang, Ranting Ngambon Gelar Doa Bersama